Kamis





Berita berita tentang bunuh diri belakangan ini cukup marak menghiasi koran koran lokal di tanah air, yang tentu saja membuat banyak orang prihatin. Berbagi pendapat dan solusi berusaha diberikan, namun kasus bunuh diri tetap saja tinggi.
SELAMA beberapa bulan terakhir di halaman daerah koran ini terbetik berita yang luput dari perhatian banyak orang. Berita kecil satu atau dua koloman itu memang berita biasa. Namun intensitasnya yang cukup tinggi, menjadikan berita biasa itu patut mendapat sorotan tersendiri. Berita itu tak lain tentang kasus bunuh diri. Sepuluh lebih kasus bunuh diri menempati halaman daerah koran ini selama tiga bulan terakhir. Tentu fenomena sosial yang menarik untuk didiskusikan. Paling tidak bila hal itu dihubungkan dengan pidato kenegaraan Rabu (16/8) lalu. Dalam pidato tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan angka kemiskinan turun dari 23,4 % pada tahun 1999 menjadi 16 % pada tahun 2005 dari jumlah penduduk 250 juta jiwa. Presiden juga menyatakan angka pengangguran turun dari 11,2% menjadi 10,4% pada Februari 2006. Padahal menyimak berita-berita bunuh diri itu, penyebabnya bermuara pada kemiskinan dan pengangguran. Hampir semua pelaku bunuh diri berasal dari keluarga tidak mampu. Karena itu, kalau boleh bergurau, jangan-jangan pengurangan itu akibat banyak orang miskin dan pengangguran yang bunuh diri.Misalnya, terbetik berita di Suara Merdeka 1 September 2006, di Wonosobo seorang lelaki bernama Edi (35), Dusun Bugangan, Desa Purwosari, gantung diri di pohon petai gara-gara kesulitan mencari pekerjaan. Di koran yang sama beberapa waktu lalu juga diberitakan bahwa seorang ibu di Banyumas mengakhiri hidupnya dengan cara menceburkan diri ke Sungai Serayu bersama seorang anak balitanya. Mardi di Gunung Kidul, bunuh diri di tengah-tengah kesedihan terkena bencana gempa bumi. Dan masih banyak kasus serupa yang merupakan bentuk metamorfosis kemiskinan.*****KEMISKINAN memang menjadi akar dari segala masalah. Bacalah berita daerah di koran ini. Anda pasti akan menemukan berita tentang pencuri yang digebuki, penjarahan, demonstrasi massa yang beringas, massa yang merusak kantor KPUD, atau suami bunuh istri atau istri bunuh suami. Intinya, banyak berita tentang pembunuhan, perampokan, pencurian, dan tentu saja keputusasaan atau kasus bunuh diri. Semua itu tentu akibat kemiskinan. Diperkirakan keluarga miskin sudah mencapai 18 juta atau sekitar 54 juta jiwa. Lapangan kerja yang minim dan adanya kantong-kantong kemiskinan baru, membuat rakyat tidak mampu membeli kebutuhan hidup paling dasar, yakni makanan yang begizi.Akibatnya, terbetiklah berita bahwa di Nusa Tenggara Timur sejak Januari 2006 terdapat 206 anak balita bergizi buruk dan lebih dari 2.000 anak balita lain kekurangan gizi. Di Kabupaten Krawang, empat bayi penderita busung lapar meninggal (Kompas, 17/2).Kemiskinan yang belakangan ini diributkan soal jumlah angkanya di Indonesia setelah pidato Presiden ternyata telah membuat banyak orang tidak dapat berpikir secara rasional lagi. Apabila tidak diatasi tentu akan makin banyak yang menderita kekalutan mental. Akibat lanjutannya tentu saja penderita melakukan destruksi diri dan bunuh diri, sebagaimana tergambar dalam berita-berita di koran ini. Apabila kebutuhan paling vital seperti makan, minum, tidur, pakaian, dan lainnya tidak terpenuhi, akan mengakibatkan ancaman eksistensi diri. Timbullah aneka keguncangan mental dari taraf paling ringan sampai paling berat. Karena itu kasus bunuh diri memerlukan perhatian semua pihak. Pemerintah dan masyarakat digugah untuk peduli sehingga kasus tersebut tidak akan makin banyak dan berkelanjutan. Berdasarkan data kepolisian, selama tahun 2006 ini terjadi 17 kasus bunuh diri pada bulan Januari, 10 kasus (Februari), 13 kasus (Maret), 18 kasus (April), 17 kasus (Mei), 20 kasus (Juni), dan 6 kasus pada bulan Juli. Tingginya kasus bunuh diri itu tentu menandakan masyarakat kita sedang sakit.Penyembuhannya tentu dengan mengubah orang miskin menjadi sejahtera. Paling tidak harus ada perubahan tiga hal. Yaitu penambahan resources, misalnya kesempatan kerja dan pendidikan. Kedua, perubahan struktur sosial. Ketiga, perubahan subkultur masyarakat miskin (Valaentine, 1968). Jadi kalau Anda pengusaha, jangan segan-segan menaikkan gaji karyawan hingga bisa memenuhi kebutuhan untuk hidup sejahtera. Minimal, memenuhi kebutuhan untuk hidup layak. Sebab konstitusi kita, UUD 1945 (Pasal 27 Ayat 2) dan juga UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menjamin hak setiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Apabila jaminan konstitusi dan UU HAM itu terpenuhi, tentu kasus bunuh diri akan berkurang pada bulan-bulan mendatang. Membiarkan kemiskinan berlarut-larut, tentu sebuah penyesatan